Relawan Pusat Layanan Difabel Membutuhkan Keterampilan Pekerja Sosial
Ini menarik. Beberapa kali Kepala Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengucapkan satu kalimat, “Mbok ya ilmunya anak-anak Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) dipakai di Pusat Layanan Difabel (PLD)”. Ya, kurang lebih seperti itu. Sesungguhnya ucapan itu sangat mengena di hati. Ha~ Kenapa? Karena nama saya juga termasuk di dalam daftar nama anak-anak IKS. Ha~ Sebetulnya, sudah. Saya sudah mempraktikkan. Swear! Ini membuat saya sedikit sedih. Dengan ucapan beliau seperti itu, artinya apa yang sudah saya lakukan belum memberikan hasil yang (berdampak).
Berdasarkan pengalaman saya bergabung di lembaga yang bekerja bersama difabel sebagai kliennya, sedikit atau banyak saya mengamati alur pekerjaan “mereka” sebagai pegawai. Banyak diantara mereka yang belum mengerti cara menangani difabel. Jangankan cara menangani, cara berinteraksi dengan difabel pun mereka masih merasa kesulitan. Ini adalah fakta yang saya dapatkan dari beberapa sumber. Bahkan dari pernyataan mereka sebagai pegawai. Sebagian dari mereka adalah pagawai biasa yang belum pernah mendapatkan pelatihan apapun untuk berkecimpung di dunia difabel. Hampir seluruh difabel Tuli mengatakan pada saya bahwa dalam berkomunikasi pun mereka tidak nyambung. Dalam pikiran saya, “Kalau mereka juga memiliki keterampilan-keterampilan seorang pekerja sosial, pasti hasil pelaksanaan intervensi difabel-difabel tersebut akan lebih memuaskan”. Menurut saya, dengan memahami keterampilan pekerja sosial, mereka yang bekerja dengan seorang difabel akan mencari tahu hal-hal yang dibutuhkan untuk membantu para difabel dalam proses intervensi. Sayangnya, belum terlaksana. Sedihnya, bukan lembaga tersebut yang tidak berusaha memberikan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan mereka untuk membantu para difabel. Akan tetapi mereka yang memang belum menyadari bahwa mereka membutuhkan keterampilan tersebut dalam proses kerja yang mereka lakukan. Ini bukan cerita kasus di Pusat Layanan Difabel, ini cerita di suatu tempat.
Beralih ke Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga. Permasalahan yang biasa saya temui ketika mendampingi kawan mahasiswa difabel sangat beraneka ragam. Masalah itu bisa hadir dari banyak sumber baik dari individunya maupun lingkungannya.
Saya tertarik dengan diskusi bersama wakil dekan salah satu fakultas di UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa praktikan Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga serta mahasiswa difabel yang bersangkutan. Saya dan salah satu rekan saya berperan sebagai penghubung sekaligus juru bahasa dalam diskusi tersebut. Kami berbincang tentang kendala-kendala mahasiswa difabel fakultas tersebut dalam proses perkuliahan langsung dari mahasiswa difabelnya. Dalam perbincangan ini kami menemukan solusi bersama. Dalam hati saya merefleksi, “Keren! Kalau relawan di Pusat Layanan Difabel juga bisa memerankan peran seperti ini, pasti akan lebih bermanfaat dan dapat segera ditindaklanjuti. Sayang sekali jika tidak, pasti diskusi ini akan mati dan hanya menjadi ide yang tidak terwujud.” See? Dalam permasalahan ini skill pekerja sosial dibutuhkan. Jelas.
Contoh kasus lain, mendampingi difabel dalam kelompok inklusi. Apa yang seharusnya relawan lakukan di posisi ini? Bagaimana dengan mendampingi difabel yang sedang dalam masa skripsi? Permasalahan yang timbul dalam kasus ini biasanya berasal dari beberapa pihak. Akan tetapi, peran individu difabelnya lah yang menjadi peran utama. Wajar jika mahasiswa difabel merasa malas untuk mengerjakan skripsi sehingga santai tanpa melakukan apapun. Kenapa wajar? Karena mahasiswa non difabel pun sangat berpotensi merasakannya. Tapi, bagaimana jika difabel tersebut merasa malas karena dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan, kapan dia harus melakukan serta kemana dia harus pergi? Ini bisa terjadi dan dialami oleh mahasiswa difabel.
Contoh masalah lain, misalkan orang awam yang belum mengerti kebutuhan difabel? Permasalahan tersebut bisa diatasi dengan memiliki keterampilan pekerja sosial. Ujian TOEFL listening bagi Tuli? Kebijakan ini sangat tidak berpihak pada Tuli. Mahasiswa yang dapat mendengarpun banyak yang merasa kesulitan untuk mengerjakannya. Bagaimana dengan seorang Tuli? Begitupun permasalahan parkir kedaraan sembarangan yang mengganggu akses jalan mahasiswa difabel netra, dengan keterampilan pekerja sosial para relawan dapat membantu terwujudnya lingkungan yang lebih inklusif. Dari contoh cerita fakta di atas, dapat dilihat bahwa keterampilan pekerja sosial memang perlu dimiliki oleh para relawan di Pusat Layanan Difabel.
Di Pusat Layanan Difabel, terdapat 206 relawan di grup WhatsApp Sahabat Inklusi 2016, 44 relawan di grup WhatsApp Keluarga Relawan PLD, 13 relawan di grup WhatsApp Geng Inklusi dan masih banyak relawan yang belum masuk ke dalam grup WhatsApp karena tidak memiliki akun WhatsApp atau karena alasan lainnya. Jelas, tenaga relawan di Pusat Layanan Difabel sangat banyak. Memang, mereka tidak hanya mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial. Akan tetapi, untuk dalam proses kerjanya pun seorang pekerja sosial membutuhkan disiplin ilmu yang lain. Jadi, asal muasal jurusan mereka sebagai mahasiswa non Ilmu Kesejahteraan Sosial pun dapat dijadikan sebagai sistem sumber (potensi) dalam membantu mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga. Ketika jurusan mereka bukan lagi menjadi masalah, langkah yang perlu dilakukan adalah memperkenalkan dunia pekerja sosial pada mereka (relawan Pusat Layanan Difabel). Dengan begitu, diharapkan para relawan Pusat Layanan Difabel dapat lebih membantu UIN Sunan Kalijaga untuk menjadi lebih inklusif.
-R-

ternyata menjasi pekerja sosial itu luar bisa ya
ReplyDelete