Orientasi Mobilitas Tune netra
Sebagai seorang relawan difabel, saya merasa tertarik untuk mengamati segala hal terkait difabel. (Ya. Karena beberapa alasan skripsi saya bukan tentang difabel --__-- Please, stop membahas tentang itu!) Haha~
Sebelumnya saya ingin bertanya pada kalian yang memiliki teman atau kerabat difabel netra. “Apakah kalian sudah mengetahui cara-cara menggandeng difabel netra yang bisa membuat kalian (difabel netra dan yang menggandeng) merasa aman dan nyaman?”. Saya yakin ada beberapa dari kalian yang belum tahu. Saya membuktikannya dengan hasil pengamatan saya selama saya menjadi relawan difabel di Pusat Layanan Difabel. Beberapa ‘pelaku’ yang saya amati yakni seperti orang tua difabel netra, teman kuliah, dosen, relawan baru dan sedikit relawan lama. Ada satu pernyataan salah satu difabel netra alumni UIN Sunan Kalijaga yang ‘mencabik-cabik’ hati saya. #eaaak Bang Pik (Abdullah Fikri) berkata, “Ben dino dolanne karo wong wuto kok yo ra reti coro nggandeng!” yang artinya “Setiap hari bermain bersama difabel netra kok ya tidak tahu cara menggandeng!”.
Tapi, ini benar-benar terjadi. Banyak dari kalangan yang saya sebut tadi, belum tahu cara menggandeng difabel netra. Ada yang terbalik posisinya, yang seharusnya memegang malah dipegang, ada juga yang menggunakan tongkat putih (tongkat yang biasa digunakan difabel netra) sebagai jarak supaya tidak bersentuhan pokoknya macam-macamlah. Tapi, ada satu hal juga yang menarik dari cara menggandeng difabel netra menggunakan tongkat putih sebagai media supaya tidak saling bersentuhan. Dalam gurauan di Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta cara ini biasa disebut dengan ‘madzhab UIN’.
Menurut saya, boleh-boleh saja menggunakan cara apa saja yang penting mengutamakan keamanan dari difabel netra sendiri. Mengapa? Karena terkadang, difabel netranya yang menjaga jarak untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Jadi, cukup dulu pengantarnya. “Kalo terlalu panjang takut jadi latar belakang. Skripsi aja nggak kelar-kelar.”
Oh iya, ini adalah hasil belajar bersama Mas Hendro dan Bang Pik. Beliau berdua adalah difabel netra alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Memanfaatkan keberadaan orang-orang kece). Begini caranya:
1. Tawarkan bantuan dan kontak pertama
Kita perlu untuk menawarkan bantuan pada difabel netra sebelum menggandeng tangannya. Ingat! Jangan asal menggandeng! Saya ada cerita. Saya pernah ditolak karena asal menggandeng. Haha, jadi malu. Zaman baru jadi relawan. Saya berniat membantu teman difabel netra yang sedang kebingungan mencari jalan. Ketika saya gandeng, “Mbak, ayo sama aku!” ternyata jawabannya, “Jangan bantu aku, Mbak! Aku lagi belajar ngafalin jalan.” -_- #zonk Ya, difabel harus mandiri memang. Apalagi mahasiswa. Kamu kece! Haha. (Ngeles ajaaa, biar ga malu-malu amat).
Setelah mendapatkan jawaban bahwa difabel netra yang kalian tawari bantuan bersedia untuk digandeng, sentuhkan punggung tanganmu ke punggung tangan si difabel netra. Tujuannya adalah supaya dia tahu di mana lenganmu.
2. Cara Memegang
Cara memegang yang betul adalah si difabel netra yang berpegangan pada kita, bukan kita yang memegangnya. Biasanya, orang yang belum tahu pasti cenderung menuntun (seperti orang sakit yang membutuhkan bantuan untuk berjalan) atau bahkan menarik si difabel netra yang diarahkan. Usahakan, cara berpegangannya cukup kokoh sehingga terasa nyaman dan aman untuk si difabel netra. Biasanya, cara berpegangan yang kokoh ini yaitu seperti memegang lengan dengan posisi ibu jari di luar dan empat jari lainnya di dalam.
3. Posisi Pegangan
Posisi pegangan, akan lebih aman kalau setiap berjalan posisi difabel netra berada di sebelah kiri si penggandeng. Dengan begitu, difabel netra juga aman dari lalu lalang kendaraan di jalan.
Difabel netra berpegangan di atas siku si penggandeng. Dengan posisi demikian, difabel netra yang kita gandeng akan dapat membaca medan yang sedang kita lewati. Naik atau turun, difabel netra akan mengetahuinya dari gerakan kita. Dengan posisi seperti itu, difabel netra juga akan merasa lebih aman selama berjalan.
4. Jalan Sempit
Di jalan sempit, posisi si penggandeng ada di depan difabel netra yang sedang digandeng. Biarkan difabel netra yang kita gandeng mengikuti gerakan kita. Arahkan pula lengan kita ke belakang tubuh kita. Tempelkan lengan kita ke punggung kita. Dengan begitu, difabel netra akan mengetahui bahwa medan yang sedang dilalui adalah medan yang sempit. Setelah jalan sempit terlampaui, kembalikan posisi tangan kita ke posisi normal, dengan begitu difabel netra yang kita gandeng akan mengikutinya pula.
5. Membuka atau Menutup Pintu
Ketika berjalan menuju pintu yang tertutup, sebaiknya difabel netra yang berjalan di sebelah engsel pintu. Kita yang membuka pintu karena kita yang berjalan di depan, biarkan difabel netra yang kita gandeng menutup pintu.
6. Melewati Tangga
Cobalah untuk selalu menceritakan medan. Dalam hal ini salah satu yang penting adalah ketika dalam menggandeng difabel netra kita menemui tangga. Komunikasikan bahwa kita akan menemui tangga naik atau turun. Jika perlu kita berhenti sejenak sebelum melewati tangga tersebut. Katakan naik atau turun. Setelah anak tangga terakhir, kita juga perlu memberitahukan difabel netra yang kita gandeng.
7. Melangkahi Lubang
Ketika akan melewati lubang, kita juga perlu untuk menceritakan medan tersebut pada difabel netra yang kita gandeng. Jika perlu, berhenti sejenak dan melangkahlah terlebih dahulu supaya ia bisa memperkirakan langkah yang diperlukan untuk melewati lubang tersebut.
8. Duduk di Kursi
Ketika kita akan mengarahkan difabel netra untuk duduk di kursi, rabakanlah tangan kita ke sandaran atau posisi tangan kursi. Difabel netra yang kita bantu akan mengikuti tangan kita. Tidak perlu menggandeng tangannya apalagi memposisikannya untuk duduk. Biarkan ia duduk sendiri. Cukup sentuh sandaran atau posisi lengan kursi dan arahkan difabel netra untuk meraba kursi sendiri.
9. Mengarahkan Tempat Tanda Tangan
Saya mendapatkan cara ini dari Mbak Kuni (SIGAB). Pada saat itu, beliau sedang mengarahkan Mbak Presti (SIGAB, difabel netra, alumni UIN Sunan Kalijaga) untuk menandatangani daftar hadir undangan di salah satu acara yang diadakan oleh Pusat Layanan Difabel. Saya mengamati cara beliau. Sebetulnya saya sudah melakukan cara itu juga. Tapi saya belum tahu, apakah cara tersebut memang cara yang tepat. Ternyata, Mbak Kuni mengatakan hal itu adalah hal yang tepat. Begini caranya, arahkan tangan difabel netra, letakkan ujung kuku jari kita di posisi kolom yang akan ditanda tangani. Ceritakan posisi tersebut pada difabel netra yang kita bantu.
Sekian dulu cerita dari saya. Sebetulnya masih banyak hal yang harus kita pahami terkait hal ini. Tentang cara mengarahkan posisi makanan dan lain-lain. Tapi, biarkan saya menimba ilmu terlebih dahulu. Hehe. Semoga bermanfaat.
-Relawan Difabel di Pusat Layanan Difabel, An-nisa De Ra-

Comments
Post a Comment