Dibutuhkannya Penerjemah Bahasa Isyarat Bagi Para Pelajar Tuna Rungu

Saya ingin memulainya dengan satu pertanyaan, “Ada berapa macam bahasa yang Anda ketahui?” Bisakah Anda membayangkan diri Anda berada di suatu negara asing atau komunitas asing yang Anda sama sekali tidak mengetahui bahasa yang mereka gunakan. Bisakah Anda membayangkan, Anda belajar di suatu kelas yang Anda tidak tahu sama sekali bahasa yang digunakan oleh guru atau dosen Anda? (Sementara Anda tahu betul, bahwa setelah Anda belajar di kelas tersebut Anda diharuskan untuk mengikuti ujian terkait mata pelajaran yang Anda pelajari itu).
Bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda akan merasa takut? Apakah Anda akan merasa sedih? Gugup? Atau, justru malah santai?
Apakah dari situasi tersebut, Anda membayangkan kegagalan yang akan Anda peroleh?
Ya, situasi tersebut adalah gambaran dari seorang murid atau mahasiswa tunarungu yang harus beradaptasi dengan kelas yang menggunakan bahasa oral (bahasanya orang mendengar). Saat ini saya tidak sedang membicarakan, “Mengapa mereka tidak sekolah di Sekolah Luar Biasa atau semacamnya?”. Saya sedang membicarakan tentang inklusivitas di mana sekolah-sekolah atau kampus-kampus inklusi selayaknya (ideal) bisa memberikan aksesibilitas yang dapat mereka gunakan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan lainnya.
Perlu Anda pahami, bahasa oral adalah bahasa asing bagi sebagian besar dari para tunarungu. Seringkali bahasa tersebut menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Murid atau mahasiswa tunarungu diharuskan belajar dengan dengan bahasa oral sepanjang dia belajar. Bahkan terkadang ada beberapa pembicara yang belum mengetahui bagaimana cara berbicara yang benar dengan para tunarungu supaya mereka dapat menangkap apa yang disampaikan.
Para murid atau mahasiswa tunarungu sudah pasti mengalami hal yang Anda bayangkan sebelumnya. Mereka pun belajar untuk mengikuti ujian di waktu yang akan datang, sama seperti para murid ataupun mahasiswa lainnya. Bagaimana perasaan mereka? Anda bisa tanyakan langsung kepada mereka. Sebagian besar dari mereka merasa gugup sebelum menghadapi ujian jika selama belajar di kelas mereka tidak memahami dengan baik proses belajar yang berlangsung. Ya, Anda benar. Mereka juga sama dengan para mahasiswa atau murid yang mendengar.
Tapi, jika dilihat dari perbandingan seberapa besar informasi yang para tunarungu dapatkan dan seberapa besar informasi yang didapatkan oleh para murid atau mahasiswa yang mampu mendengar sangat jauh berbeda banyak sedikitnya. Lagi-lagi informasi merupakan hal yang sangat penting untuk didapatkan supaya dapat diketahui.
Dalam hal tersebut yang dibutuhkan adalah seorang penerjemah bahasa bahasa isyarat. Penerjemah yang bertugas untuk menerjemahkan bahasa suara menjadi bahasa gerak tubuh yang bisa dipahami dengan kemampuan visual. Penerjemah tersebut yang akan membantu para tunarungu untuk mengakses informasi. Dengan tersedianya penerjemah bahasa isyarat, para murid atau mahasiswa tunarungu akan lebih mudah memahami informasi yang disampaikan oleh  para guru maupun dosen.
Seorang penerjemah bahasa isyarat merupakan sebuah alat. Ia bertugas menjelaskan seluruh situasi dan kondisi yang terjadi di dalam kelas kepada para difabel tunarungu. Meskipun begitu, ada satu hal yang perlu diketahui oleh para guru maupun dosen yang mengajar para difabel tunarungu. Ya, cara mengajar serta cara berbicara dengan mereka. Jika dosen berbicara dengan para mahasiswa tunarungu, maka seharusnya dosen tersebut menghadap mereka bukan menghadap penerjemah bahasa isyarat mereka. Itu adalah salah satu hal yang perlu diketahui untuk menghargai mereka. Selain itu pun informasi akan lebih mudah ditangkap dengan saling berhadapan.
Jika melihat pentingnya peranan penerjemah bahasa isyarat bagi para murid atau mahasiswa tunatungu, maka selayaknya sekolah maupun kampus yang disebut-sebut sebagai sekolah maupun kampus inklusi menyediakan penerjemah bahasa isyarat.
Sumber: Catatan Workshop Bersama Earllene Roberts, University of British Columbia (UBC)



Comments

Popular Posts