Pelatihan Bahasa Isyarat
Mengutip
dari Beni Sasongko (Deaf), “Bahasa isyarat itu istimewa. Coba orang yang dengar?
Jarak dekat bisa komunikasi. Semakin jauh jaraknya suara semakin hilang.
Komunikasi masih bisa? Tidak! Kita bandingkan dengan bahasa isyarat. Jarak jauh
kita masih bisa berkomunikasi. Benar?”. Hahaha… (Eits… ini bukan gurauan! Tapi
sungguhan!)
UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, digadang-gadang sebagai salah satu kampus inklusi. Universitas
ini telah meraih penghargaan “Inclusive
Education Award” 2013. Ada puluhan mahasiswa dengan beberapa jenis difabel
sedang menempuh study di kampus
tersebut seperti tuna netra, tuna daksa, autis, cerebral palsy dan tuna rungu wicara (tuli).
Salah
satu syarat kampus inklusi adalah memadainya aksesibilitas bagi para mahasiswa difabel.
Misalnya adalah bahasa isyarat bagi tuna rungu dan wicara (tuli). Bahasa
isyarat terbukti sangat dibutuhkan kawan-kawan tuli dalam proses pembelajaran
terutama bagi tuli yang kurang bisa berkomunikasi dengan bahasa oral. Hal
tersebut saya buktikan dari keluhan kawan-kawan tuli di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, sebagian besar dari mereka mengatakan sulit mengikuti penjelasan
dosen di dalam kelas jika penyampaian murni menggunakan bahasa oral tanpa
pendamping.
Pusat
Layanan Difabel memiliki beberapa relawan yang sudah cukup bisa berkomunikasi
menggunakan bahasa isyarat, satu masalahnya adalah beberapa relawan tersebut di
antaranya sudah lulus dan beberapa yang lain sudah masuk dalam semester tua dan
sedang mempersiapkan diri untuk praktik dan lain-lain. Regenerasi sangat
dibutuhkan. Ini adalah salah satu permasalahan yang sedang diupayakan
solusinya.
Pusat
Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki beberapa program terkait
peningkatan skill-skill yang dimiliki
oleh para difabel, seperti pelatihan komputer berbicara bagi para mahasiswa
difabel netra, pelatihan Bahasa Indonesia bagi difabel rungu wicara, serta academic writing skill dan social
skill bagi seluruh mahasiswa difabel.
Selain
pelatihan-pelatihan bagi para difabel, ada satu pelatihan yang ditujukan untuk
para relawan dan umum. Pelatihan tersebut adalah pelatihan bahasa isyarat. Seluruh
warga PLD berharap pelatihan tersebut bisa menjadi jawaban yang solutif untuk
masalah regenerasi penerjemah bahasa isyarat. Siapa tahu nanti ada yang berniat
mempraktikan ilmu-ilmu yang sudah didapatkan untuk membantu PLD. Pelatihan bahasa
isyarat tahap awal akan dilaksanakan dalam empat kali pertemuan yakni pada hari
Rabu 18 Mei 2016 yang sudah terlaksana dengan lancar.
Beberapa
instruktur pelatihan bahasa isyarat yang diadakan oleh Pusat Layanan Difabel,
merupakan mahasiswa difabel tuna rungu wicara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Mereka adalah Indra Kurmala, Warkah Fabrianbasrin, Lia Nur Rochma, Riski
Purnama Adi dan Beni Sasongko. Mereka pun anggota Pusat Layanan Difabel. Mereka
terpilih menjadi instruktur karena kemampuan mereka yang sudah profesional. Dalam
mengajar, mereka dibantu oleh beberapa relawan Pusat Layanan Difabel.
Kemampuan
mereka patut diacungi jempol. Mereka bisa berkoordinasi dengan baik. Sebagai instruktur,
mereka mempersiapkan materi dalam bentuk power
point dan merekapun mengajak orang-orang yang mengikuti pelatihan untuk
praktik bersama mereka. Tak jarang mereka memanggil beberapa orang dari peserta
ke depan untuk mempraktikkan apa yang telah diajarkan. Peserta tampak antusias.
Materi pada hari Rabu kemarin adalah terkait huruf isyarat, perkenalan dan
nama-nama pulau serta kota di Indonesia. Peserta hari Rabu terhitung kurang
lebih 40 an orang.
Setelah
mereka selesai mengajarkan materi, beberapa di antara mereka memberikan contoh
dalam bentuk percakapan. Seperti yang dilakukan oleh Warkah dan Mala. Dengan percaya
diri mereka memberikan contoh untuk seluruh peserta. Pembawaan mereka yang luwes
membuat para peserta memandang ke arah mereka dengan wajah-wajah yang begitu
bersemangat untuk bisa.
Cara-cara
mengajar yang dilakukan oleh kawan-kawan instruktur sangat menarik perhatian para
peserta. Mereka menyebar ke seluruh peserta dan meminta para peserta saling
mempraktikan satu sama lain. Para instruktur tampak gembira ketika mengajarkan
bahasa mereka pada para peserta. Hebat!
Pelatihan
bahasa isyarat yang diadakan Pusat Layanan Difabel menjanjikan sertifikat bagi
para peserta yang memiliki persentase kehadiran minimal 80% dan lulus ujian
pada akhir pelatihan. Sertifikat ini menambah semangat peserta. Pusat Layanan
Difabel berharap pelatihan bahasa isyarat dasar yang diadakan bagi umum ini dapat
membantu terbangunnya lingkungan yang lebih inklusif, terutama bagi UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta.

Comments
Post a Comment