Pelatihan Relawan Inklusi




Dari Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk mencapai Kaliurang, kami menggunakan dua bus berukuran sedang. Kami berangkat dengan tujuan mengikuti “Pelatihan Relawan Inklusi”. Pelatihan ini memiliki serangkaian acara. Termasuk outbound. Saya belum bisa membayangkan  sama sekali, permainan seperti apa yang akan disajikan oleh para instruktur outbound di sana.
Kami berangkat dengan berbagai macam rasa. Pikiran saya sendiri sibuk berbincang-bincang. Entah apa yang ada. Saya duduk di kursi paling pojok belakang bus ketika itu. Bermain dengan ponsel. Satu orang yang berdiri tepat di depan saya karena tidak ada kursi berkata, “Ada banyak orang di sini. Kenapa harus sibuk dengan orang-orang yang jauh di sana?”. Aku tersadar, “Iya juga ya. Kenapa saya tidak memanfaatkan waktu kebersamaan kami.” Terimakasih, Geng. Ucapanmu berguna sekali. (Eits, Geng adalah  panggilan kami untuk mengakrabkan diri di PLD) haha
Sampai tujuan, hampir Maghrib. Kami tinggal untuk satu malam di salah satu vila di puncak sana. Vila Melati namanya. Ada dua lantai dan beberapa kamar. Ada ruang makan yang cukup besar dan aula tempat untuk kami berkumpul. Vila tempat kami tinggal berjarak cukup dekat dengan masjid. Berharap itu menambah kemudahan akses tempat bagi kawan-kawan difabel. Memang, dekat. Tapi medannya naik turun. Ada dua kawan mahasiswa difabel yang tampak kesulitan. Pertama mahasiswa tuna daksa pada bagian kaki. Baginya, jarak masjid dan vila cukup jauh. Belum lagi medannya yang naik turun. Ke dua, mahasiswa difabel cerebral palsy. Dia lebih senang berjalan di jalan datar atau naik. Mengapa? Karena di jalan turun, dia merasa kesulitan untuk mengontrol kecepatan. Dia akan tampak berlari jika tidak ada yang menahannya ketika berjalan ke bawah. (Itu hanya pengalaman sederhana, barangkali teman-teman sedang membutuhkan)
Kami, melaksanakan sholat Maghrib sebelum melanjutkan kegiatan. Beberapa di antara kami memutuskan untuk sholat di kamar yang sudah dibagikan menjadi beberapa kelompok. Satu pengalaman saya yang cukup aneh. Haha (Bagi saya).
Setelah sholat Maghrib berjamaah selesai dilaksanakan, saya dan beberapa kawan berjalan pulang menuju kamar kami masing-masing. Beberapa relawan dengan beberapa mahasiswa difabel berjalan bersama. Saya melihat ada salah satu mahasiswa difabel daksa tampak kesulitan untuk berjalan menuju vila. Saya menawarkan diri untuk menggendongnya. Dia sempat menolaknya. Akhirnya dia menyetujui untuk berjalan di atas punggung saya. Sungguh, saya harus meminta maaf padanya. Karena dia terbanting-banting di atas punggung saya. Hehe… (Serius, saya sudah minta maaf). :D
Rangkaian acara siap dimulai setelah seluruh peserta acara selesai melakukan sholat Maghrib. Kami berkumpul di dalam aula. Seluruh mahasiswa difabel lama dan baru,  seluruh relawan lama dan baru serta beberapa pengurus Pusat Layanan Difabel seperti direktur dan staf-staf Pusat Layanan Difabel.
Di dalam aula, kami bersenang-senang bersama. Berkenalan, bermain dan bernyanyi bersama. Ada mahasiswa tuna netra baru yang ternyata memiliki suara emas. Dia menyanyi menghibur seluruh peserta. Dengan penuh percaya diri, salah satu mahasiswa baru (cerebral palsy) menyumbangkan suaranya. Seluruh peserta bertepuk tangan untuk mereka.  Ada beberapa relawan juga menyumbangkan suara mereka. Hampir menjelang akhir acara, direktur Pusat Layanan Difabel (Pak Mukhrisun Affandi) memukau seluruh peserta di dalam aula dengan suara indahnya. Beliau menyanyikan lagu berbahasa asing ketika itu. Hari sudah larut. Acara sudah harus segera ditutup. Banyak peserta sudah terlihat lelah dan siap untuk istirahat.
Acara ditutup. Banyak peserta kegiatan berjalan keluar dengan letih menuju kamar masing-masing. Beberapa relawan dan difabel tetap tinggal di aula. Berbincang-bincang terjaga bersama. Relawan, beberapa mahasiswa tuna rungu dan wicara, tuna netra dan tuna daksa. Mahasiswa tuna netra tampak bernyanyi-nyanyi di aula sebelah samping kiri. Di balik dinding aula tampak beberapa relawan dan beberapa mahasiswa tuna rungu wicara dan tuna daksa. Berbincang-binccang menggunakan bahasa isyarat. Menarik sekali, ketika beberapa kawan tuli mau menyajikan beberapa buah penampilan pantomim ala tuli. Kami sangat terhibur hingga bisa tertawa bersama. Menggembirakan. Mereka sungguh bertalenta.
Sedikit bercerita beberapa hiburan (bagi saya). Melihat mereka dapat menjadikan status mereka sebagai difabel menjadi bahan gurauan. Sebagai contoh, ada dua orang  tuli sedang berbincang dengan salah satu relawan. Salah satu tuna rungu (tuli) sedang memeggang gitar. Dia mencoba untuk memainkan gitar itu. Meskipun dia tidak mendengar. Tapi bukan itu hal yang ingin saya sampaikan. Ada makna yang cukup membuat saya kagum. Menurut saya, dengan mereka sudah merasa nyaman dengan status difabel yang dimiliki, mereka sudah melangkahi banyak anak tangga dalam proses kehidupan. Tanpa mendengar, salah satu dari mereka pun tampak menari. Hebat! Gurauan mereka memukau banyak penonton. Kami terkagum-kagum! Hari mulai pagi, saya tidak kuat begadang satu malam suntuk. Haha. Beberapa dari teman saya tetap bertahan di sana. Saya bergegas tidur. Sebelum matahari betul-betul memunculkan dirinya.
Acara di pagi hari, kami berolahraga setelah selesai melaksanakan sholat Shubuh dan bersantai sejenak menikmati sejuknya suasana. Setelah berolahraga, tanpa mandi kami menuju lapangan lokasi outbound. Medannya cukup menguras tenaga karena lumayan berjarak. Kadang naik, kadang turun. Gurauan bersama para peserta dan beberapa pengurus menambah keseruan kegiatan kami. Berfoto di jalan.
Sampailah kami di lokasi tujuan. Salah satu lapangan di Kaliurang ketika itu terlihat begitu panas, meskipun tampak pepohonan hijau di tepi-tepi. Banyak debu bertaburan di sana-sini. Pantas saja, ada beberapa orang menyuarakan, “Bawa masker! Bawa masker!”. Sungguh, saya harus berterima kasih atas suara itu. (haha) Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan survei tempat beberapa hari sebelum diadakan acara yang mengakrabkan ini.
Kami disambut oleh para instruktur. Sungguh ramah mereka. Kami mengikuti briefing sebelum benar-benar mengikuti outbound. Saya penasaran. Sambutannya saja menyenangkan begini, bagaimana dengan permainan-permainannya?

Bersambung, -R-

Comments

Popular Posts