AKU JUGA ANAK-ANAK ADAM DAN HAWA

Foto Deaf Art Community
Suara dan Terasing
            “Aku belum pernah tahu, “Seperti apa itu suara?”. Aku hanya membayangkan, suara itu seperti  getaran. Ya, getaran di dada yang dapat aku rasakan. Getaran seperti semangat yang dapat membangkitkan.” (Arif DAC)
            Teman, jika kamu mengatakan bahwa kami adalah tunarungu, kamu benar, itu kami. Jika kamu menyebut kami tuli, kamu pun betul, itulah nama kami yang cukup terkenal di kalangan kalian. Kami memang tidak mampu mendengar, dan itulah ciri khas kami. Jika kami bersuara, untuk mengucapkan satu kata pun kadang tak terselesaikan. Berusaha sekeras apapun suara kami akan muncul dengan kurang jelas. Hal itu terbukti dengan banyaknya orang-orang yang bisa mendengar seperti kalian yang selalu menanyakan kembali tentang apa yang kami katakana  untuk memperjelas.
Suara kami memang tidak jelas, bahkan jarang sekali terdeteksi. Barangkali gagu adalah istilah yang sesuai untuk memberi nama dari ketidakjelasan suara kami. Label itu pun perlahan diketahui olehmu. Sepertinya mau tak mau kami harus menerima kata itu untuk dijadikan nama panggilan kami.
Sebagian dari kami bahkan belum sempat berkenalan dengan “suara”. Suara kami kadang ada pada apa yang kami rasakan. Seringkali suara itu muncul dalam tarian jemari. Sekali lagi kamu menerka dengan sempurna. Jemari yang dengan luwes kami suarakan. “Bahasa isyarat”, itulah suara kami.
            Teman, bolehkah kami berbicara? Namun sebelumnya, kamu harus tahu bahwa kami muncul dan menggemparkan bumi dengan bermacam-macam cara. Suara kami akan terdengar dengan banyak jenisnya. Dalam kesempatan kali ini, kami akan membacakan puisi untukmu. Puisi ini merupakan salah satu karya kami. Teman,  sudah siapkah? Saat ini dengarkanlah suara kami dengan sepasang bola matamu yang indah itu. Suara kami akan menggema di dalam sebuah coretan cantik.
Sebuah rangkaian huruf-huruf yang akan memberitahukan salah satu isi hati kami padamu. Menurut kami, syair ini adalah bentuk ungkapan hati yang sangat keren! Hehe Maaf ya, Teman. Aku terkesan sombong. Tapi sungguh, banyak di antara kami yang bisa  menikmati suara-suara puisi yang muncul dalam bentuk tulisan seperti ini. Ya, kamu betul, jika kamu membaca puisi dengan bersuara maka kami tak akan mampu menikmatinya. J Atau mungkin kamu berniat membacakan puisi itu untuk kami dengan bahasa tubuhmu? Bahasa tubuhmu itu pun adalah salah satu cara kami mendengarkan. Mata, seringkali menjadi telinga pengganti.
AKU JUGA ANAK-ANAK ADAM DAN HAWA
APA SALAH KAMI LAHIR DI DUNIA INI?
KAMI JUGA LAHIR DARI BUAH CINTA
SAMA SEPERTIMU, ANAK-ANAK ADAM DAN HAWA
SEMPURNA, ADALAH KATA-KATA YANG MENYAKITKAN BAGI KAMI
SEPERTI TOMBAK YANG DITUSUKKAN KE ULU HATI KAMI
KARENA SEMPURNA, HANYA MILIK ORANG YANG BISA MENDENGAR
DAN TIDAK SEMPURNA, UNTUK TULI
APA SALAH KAMI LAHIR DI DUNIA INI?
KAMI JUGA LAHIR DARI BUAH CINTA
SAMA SEPERTIMU ANAK-ANAK ADAM DAN HAWA
KAMU BISA MELIHAT
KAMU BISA MENDENGAR DAN INFORMASI ITU MASUK KE DALAM OTAKMU
SEMENTARA KAMI HANYA BISA MELIHAT BAHASA TUBUHMU
APA SALAH KAMI LAHIR DI DUNIA INI?
TETAPI KAMI TETAP YAKIN BAHWA KAMI JUGA BISA
MEMILIKI KEMAMPUAN YANG BISA SAMA SEPERTIMU
-DEAF ART COMMUNITY, YOGYAKARTA-

Teman, bersediakah kamu membantu kami? Tolong putarkan musik yang paling kamu sukai, ya! Tolong dengarkan juga untuk kami. Bagaimana?  Merdukah suara musik itu?  Maafkan kami, Teman. Kami hanya mampu membayangkan. Sebenarnya kami pun merasa kesulitan jika harus membayangkan serta mengartikan apa itu suara dan bagaimana wujudnya.
Salah satu teman  memberitahu kami  sebuah cara untuk menikmati keindahan suara. Ia mengajari kami  tentang bagaimana caranya untuk mendengarkan suara. Ya, tentunya kami memiliki cara tersendiri dan pasti sangat berbeda dengan caramu. Tanpa segan ia membocorkan rahasianya yang hebat.
Kamu juga ingin tahu? Boleh. Teman, pekakan tubuh kamu, rasakan apa yang terjadi jika ada suara. Letakkan tangan kamu di dada dan mulailah bersuara, apa yang kamu dapat? Getar. Ya, jawabanmu tepat sekali! Kami cukup bahagia dengan penemuan itu. Bahagia yang meninggalkan bekas rasa penasaran kami yang kian bertambah. Rasanya kami harus mengucapkan terimakasih padanya.
Teman, tak selirih pun suara dapat tertangkap oleh pendengaran kami. Terasing sudah biasa kami alami. Kesunyian adalah teman akrab kami. Berpangku tangan dan berandai-andai kadangkala membuat kami merasakan kenyamanan meskipun hanya untuk sementara waktu. Lagi-lagi suara menjadi biang kesulitan bagi kami.
Teman, cukuplah suara yang pergi jauh meninggalkan dunia kami. Jangan jadikan suara sebagai alasan bagimu untuk menjauh dari kami. Cukuplah pendengaran kami yang tak setia kepada kami, jangan jadikan ketidaksetiaan pendengaran kami sebagai sebab bagimu untuk membenci dan tak mau berkawan dengan kami. Sejauh ini kami masih bersedih.
“Apa salah kami lahir di dunia ini? Kami juga lahir dari buah cinta”

Berilah alasan, mengapa kamu enggan untuk berdekatan dengan kami? Apakah kamu meragukan kemampuan kami? Apakah kamu beranggapan bahwa kami tak akan mampu sama sepertimu? Tidakkah kamu berniat memberi kami satu kesempatan? Ya, kesempatan untuk kami membuktikan padamu bahwa kami pantas untuk berteman denganmu, kesempatan untuk menunjukkan bahwa kami mampu menjadi sama sepertimu. Meski kami tuli. 

-R-

Comments

Popular Posts