Calon Mahasiswa Difabel, Siapkah?
Calon Mahasiswa Difabel, Siapkah?
Hampir siang sehari yang lalu, Jumat 14 April 2016. Pusat Layanan Difabel nyaris seperti biasanya. Udara
di dalam ruangan cukup sejuk dan tidak sepanas di luar. Kesejukan itu bersumber
dari hidupnya beberapa AC. Suasana
sejuk Pusat Layanan Difabel pun didukung dengan adanya penyediaan
makanan-makanan ringan di atas meja panjang tempat para difabel dan relawan biasanya
bercengkerama. Makanan itu dipersilahkan untuk dimakan siapa saja yang berada
di Pusat Layanan Difabel.
Di bagian depan, di meja staf terdapat
beberapa difabel tuna rungu (tuli) sedang membicarakan suatu hal. Ada dua di
antara mereka yang belum saya kenal. Mereka bukan warga Pusat Layanan Difabel.
Dua tuli lainnya adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Warga Pusat
Layanan Difabel. Mereka sedang memberi beberapa informasi kepada dua orang
pengunjung yang datang dari Magelang dan Yogyakarta. Mereka berdiskusi
menggunakan bahasa isyarat tuli.
Di bagian tengah dan belakang ruangan ada orang-orang yang
sedang melakukan kegiatan-kegiatan. Beberapa relawan dan difabel tampak sedang
asyik bercanda tawa. Beberapa relawan juga tampak sedang membantu para difabel
untuk mengerjakan tugas kuliah. Selain itu juga ada para difabel tuna netra dan cerebral palsy yang sedang bermain komputer.
Dua kawan tuli yang mengunjungi Pusat Layanan
Difabel merupakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah
menyelesaikan Ujian Nasional dan sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan
jenjang belajar ke dunia perkuliahan. Ya, mereka ingin menjadi mahasiswa. Mereka
tampak antusias untuk mendaftarkan diri di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kedatangan mereka ke Pusat Layanan Difabel tidak
sempat bertemu dengan staf yang bekerja di tempat tersebut. Beruntung mereka
bertemu dengan beberapa sesama difabel tuli yang sudah berstatus sebagai
mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga dan para relawan. Mereka bisa bertanya beberapa
hal yang bisa membantu. Meskipun sekadar berbagi pengalaman.
Salah satu calon pendaftar tampak memegang buku
profil UIN Sunan Kalijaga. Dia membolak-balikkan dan membaca dengan teliti. Ada beberapa jurusan
yang ia minati, seperti Teknik Informatika, Komunikasi Penyiaran Islam,
Pengembangan Masyarakat Islam, dan Teknik Industri.
Semangat mereka untuk melanjutkan jenjang pendidikan
ke dunia perkuliahan patut diacungi Jempol. Salut!
“Aku jurusan menjahit. Aku belajar ilmu menjahit.
Aku bisa menjahit. Aku bisa membuat rok, kaos, celana, dan beberapa lainnya.
Aku membuka praktik menjahit di rumah. Aku biasa menerima pesanan dari
teman-teman dan tetanggaku. Aku ingi kuliah. Aku ingin menjadi mahasiswa. Kalau
aku dulu jurusan menjahit, apa ada jurusan yang pas untuk aku?” Dengan
memainkan jemarinya (bahasa isyarat) dia bercerita pada saya.
Ada satu mahasiswa tuli yang juga bercerita pada
calon pendaftar tersebut, “Dulu aku jurusan Tata Busana, tapi aku bisa diterima
kuliah di jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial sekarang”.
Satu suara, saya pun memiliki kawan yang berasal
dari jurusan Tata Busana dan sekarang mempelajari Ilmu Kesejahteraan Sosial
bersama dengan saya. Cerita salah satu kawan tuliku menjawab pertanyaan itu.
Calon pendaftar itu bertambah semangat. Hebat ya cara mereka berbagi dan saling
menyemangati? Ya begitulah kawan-kawan tuli. Menurut pengamatan dan beberapa
pengalaman saya, setiap mereka bertemu dengan kawan tuli baru, setelah
berkenalan bisa langsung menjadi kawan akrab. Banyak bercerita, dan lain-lain.
Memang tidak bisa diartikan secara umum, hanya sebagian besar saja.
“UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA BERUNTUNG MEMILIKI
PUSAT LAYANAN DIFABEL” (EARLLENE ROBERTS, Manager
Disability Resource Centre at University of British Columbia Okanagan).
Menurut beliau, dengan adanya Pusat Layanan Difabel di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, akan ada banyak calon mahasiswa difabel yang merasa terbantu dalam
memilih kampus yang sesuai. Setidaknya ada tempat pengaduan apabila memiliki
kendala selama berkuliah. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dapat membantu
kelanjutan pendidikan banyak calon pendaftar mahasiswa baru dengan adanya
bantuan dari Pusat Layanan Difabel. Akan ada banyak difabel yang bisa
berkembang nantinya. Sepakat, Mom!
Beberapa saat kemudian, salah satu di antara mereka
meminta izin untuk menggunakan komputer di Pusat Layanan Difabel untuk
mengakses informasi terkait penerimaan mahasiswa baru di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Bersamaan dengan itu, ada satu relawan bernama Mugi masuk ke dalam
ruangan, dan langsung siap untuk membantu mereka. Luar biasa semangat
altruistiknya. Ha-
Setelah mengakses informasi terkait penerimaan
mahasiswa baru, kedua kawan baru saya tersebut datang menghampiri saya. Salah
satu di antaranya bertanya, “Apa mahasiswa tuli harus belajar bersama dengan
mahasiswa yang mendengar? Apa belajar bersama dosen menggunakan oral? Terus
kalau mahasiswa tuli tidak paham dengan bahasa oral bagaimana?”
Ya, inilah salah satu letak keberuntungan UIN Sunan
Kalijaga yang memiliki Pusat Layanan Difabel dan Pusat Layanan Difabel yang
memiliki para relawan berjiwa altruistik. Saya jelaskan tentang program-program
pendampingan kuliah para mahasiswa tuli dan penyediaan relawan-relawan yang
siap mendampingi. Dia tampak lebih bersemangat untuk masuk UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta karena merasa memiliki aksesibilitas yang sesuai dengan
kedifabilitasan yang menjadi identitas dirinya selama ini.
Selain Mom Earllene Roberts yang mengatakan bahwa UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta beruntung memiliki Pusat Layanan Difabel, Rohmadi
yang merupakan salah satu mahasiswa difabel tuna netra kategori low vision pun mengatakan hal yang sama.
Menurut Rohmadi, Pusat Layanan Difabel meminimalisir kesulitan para mahasiswa
difabel. Pusat Layanan Difabel memiliki banyak peran yang sangat membantu
seperti mengadakan test penerimaan mahasiswa difabel baru, wawancara
kesanggupan belajar dan potensi yang dimiliki, cara bantuan yang dibutuhkan, (assessment). Program lainnya pun ada
seperti Gerakan 1000 Buku Bagi Para Difabel Netra. Rohmadi sendiri sangat
merasa terbantu dengan adanya Pusat Layanan Difabel tersebut.
Berbicara mengenai UIN Sunan Kalijaga yang beruntung
memiliki Pusat Layanan Difabel, ada satu difabel netra yang juga sepakat dengan
hal tersebut. Abdullah Fikri, mahasiswa tuna netra yang sudah berhasil
menyelesaikan studinya hingga jenjang Strata 2 (S2) di UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta mengeluarkan suaranya bahwa hadirnya Pusat Layanan Difabel sebagai
bentuk menstrukturalkan issue-issue difabel dan mengadvokasi difabel di
Perguruan Tinggi. Sebagai contohnya adalah perlunya diadakan jalur khusus dalam
pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru seperti memberikan akses suara seperti
pembaca bagi para calon mahasiswa tuna netra. Ya, meskipun nantinya proses
belajar di kelas akan bersifat integral yang artinya tidak ada pengotakan
antara mahasiswa difabel dengan mahasiswa non-difabel. Seluruhnya ada di dalam
satu kelas ketika belajar. Contoh lain adalah mengadvokasi bagaimana para
mahasiswa difabel dapat belajar adaptif sebagaimana yang harus dilakukan oleh
actor di dalam kampus tersebut. Nah, inilah juga hebatnya peran Pusat Layanan
Difabel.
Ada banyak para calon mahasiswa difabel yang ingin
masuk ke UIN Sunan Kalijaga karena adanya aksesibilitas seperti Pusat Layanan
Difabel yang tersedia. Begitupun dengan kedua pengunjung awal kami. Antusias
mereka untuk melanjutkan studi patut diberikan apresiasi dan didukung dalam
mengembangkan kualitas hidupnya terutama dalam bidang pendidikan. Dengan
begitu, kesetaraan yang diharapkan para difabel selama ini bisa segera
terwujud.
-R-


Comments
Post a Comment