Bahasa

 
Bahasa

 “Beruntung aku masih bisa merasa ‘kaget’, ya, meskipun bukan suara yang membuatnya, tapi sentuhan yang secara tiba-tiba. Pikirku, setidaknya ‘kaget’ yang aku rasakan dapat memberiku sebuah bukti bahwa aku adalah seorang makhluk hidup. Walaupun terasing”.

Panggil saja aku Na. Aku terlahir tanpa bisa menangis. Aku diam dan tak bersuara. Cerita ibuku. Mungkin, keluargaku lah yang menangis. Menangis karena kelahiran seorang anggota keluarga baru. Entah, bahagia atau menyesal. Bahagia sama selayaknya seorang ibu yang melahirkan buah hati. Menyesal karena bayi yang terlahirkan adalah aku. Aku yang tak mampu menangis ketika pertama kali bisa bernapas dan menghirup udara dunia dengan hidungku sendiri. Aku berhasil membuat semua orang mengkhawatirkan kondisiku. Tak menangis saat detik-detik pertama dilahirkan itulah aku, seorang tunarungu.

Tidak semua kondisi bayi lahir tidak menangis menandakan bayi tersebut memiliki kesulitan mendengar. Tapi aku bukan salah satu dari itu, aku mendapatkan ketulianku sejak lahir yang memiliki tanda awal tidak menangis.

            Berbicara mengenai identitasku sebagai tuli, aku memiliki kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi. Sepertinya sebagian besar tuli merasakan hal yang sama denganku. Bahasa Indonesia pun menjadi bahasa asing bagiku. Aku merasa kesulitan untuk menulis kalimat dalam Bahasa Indonesia dengan tata bahasa yang bagus dan tepat.

            Aku sudah tumbuh dewasa saat ini. Umurku sudah lebih dari 20 tahun. Saat ini aku sedang menempuh pendidikanku sebagai seorang mahasiswa. Dengan statusku sebagai mahasiswa, Bahasa Indonesia sangat aku butuhkan untuk dipahami.

            Ngomong-ngomong, Bahasa Indonesia sedikit lebih mudah dibandingkan Bahasa Jawa. Ppfftt… Rasanya bahasa adalah satu-satunya hal yang sangat sulit untuk dipelajari oleh seorang tuli sepertiku.

            Ini curahan hatiku, betapa sulitnya aku menerka-nerka kata setiap aku berkomunikasi dengan orang-orang yang mendengar dan menggunakan bahasa oral. Tahukah kalian? Ketika kalian menggunakan oral saat berkomunikasi dengan tuli, itu sangat sulit bagi tuli yang belum terbiasa berbicara menggunakan oral. Seperti diriku.

            Dosen-dosenku, teman-temanku, sebagian besar menggunakan oral. Ketika belajar di dalam kelas, ketika dosen menyampaikan materi, bahkan ketika berkelompok pun mereka semua menggunakan bahasa oral. Terkadang aku merasa beruntung, karena setiap kali aku kuliah selalu ada pendamping yang mendengarkan pembicaraan di sekitarku untukku. Tetapi kadang kala aku pun merasa jenuh. Aku bersembunyi dalam pangkuan tanganku. Andai, semua orang yang mampu memahami keistimewaanku.

            Aku merasa kesulitan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik. Beruntung ada beberapa orang yang peduli dengan ketidakpahamanku terhadap Bahasa Indonesia. Mereka mengajariku hingga aku cukup mengerti.

            Aku bangga menjadi tuli. Tuli adalah identitas diriku. Orang akan lebih mudah untuk mengenalku. J Aku ingin memberi tahu seluruh sahabat tuli di luar sana, tidak seharusnya kita (tuli) merasa lemah. Jangan biarkan diri kita sendiri menganggap lemah kemampuan yang kita miliki. Mereka yang menganggap diri mereka adalah seorang ‘normal’ pun belum tentu diri mereka sudah mampu menemukan jati diri mereka. Berbeda dengan kita, kita adalah seorang tuli. Itulah identitas diri kita. J

-R-

 

Comments

Popular Posts